Liputan6.com, Jember: Upaya reboisasi hutan gundul di Desa Baban Silosanen, Kabupaten Jember, Jawa Timur, terhambat. Soalnya, hingga kini warga setempat enggan mengikuti program reboisasi dengan alasan areal hutan lindung seluas 400 hektare yang rusak adalah warisan nenek moyang mereka.
Kendati begitu, kata Kepala Humas Perhutani Jember Winarno, baru-baru ini, pihaknya akan tetap melaksanakan program reboisasi. Sebab, penghijauan kembali hutan lindung sangat penting untuk mencegah musibah banjir seperti yang terjadi di Situbondo dan Bondowoso. Apalagi, kerusakan hutan lindung akibat penebangan liar di Baban Silosanen terus meningkat-- saat ini mencapai 11 ribu hektare.
Winarno mengungkapkan, Perhutani Jember akan menamam pohon mahoni dan sengon secara besar-besaran di Baban Silosanen. Kedua jenis tanaman ini dipilih karena relatif cepat tumbuh dan tahan hidupnya lebih lama. "Saat ini sudah 2.730 hektare yang ditanami Mahoni," kata Winarno.
Untuk mengamankan proses reboisasi, Perhutani terpaksa menempatkan sejumlah personel militer dari Kodim Jember. Langkah ini diprotes sejumlah lembaga swadaya masyarakat di kota tersebut. Mereka menuduh Perhutani melakukan militerisme di Baban Silosanen. Namun, Winarno membantah tuduhan tersebut. Menurut dia, penempatan militer semata-mata untuk mengamankan upaya reboisasi agar musibah longsor tak terjadi di Jember.(ULF/Christanto Rahardjo
Kendati begitu, kata Kepala Humas Perhutani Jember Winarno, baru-baru ini, pihaknya akan tetap melaksanakan program reboisasi. Sebab, penghijauan kembali hutan lindung sangat penting untuk mencegah musibah banjir seperti yang terjadi di Situbondo dan Bondowoso. Apalagi, kerusakan hutan lindung akibat penebangan liar di Baban Silosanen terus meningkat-- saat ini mencapai 11 ribu hektare.
Winarno mengungkapkan, Perhutani Jember akan menamam pohon mahoni dan sengon secara besar-besaran di Baban Silosanen. Kedua jenis tanaman ini dipilih karena relatif cepat tumbuh dan tahan hidupnya lebih lama. "Saat ini sudah 2.730 hektare yang ditanami Mahoni," kata Winarno.
Untuk mengamankan proses reboisasi, Perhutani terpaksa menempatkan sejumlah personel militer dari Kodim Jember. Langkah ini diprotes sejumlah lembaga swadaya masyarakat di kota tersebut. Mereka menuduh Perhutani melakukan militerisme di Baban Silosanen. Namun, Winarno membantah tuduhan tersebut. Menurut dia, penempatan militer semata-mata untuk mengamankan upaya reboisasi agar musibah longsor tak terjadi di Jember.(ULF/Christanto Rahardjo

. (naz/Lex) |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar